Diskusi Publik FIKP UMRAH Soroti Ekosistem Maritim sebagai Fondasi Menuju Kepri Emas 2045

Tanjungpinang – Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menyelenggarakan kegiatan Diskusi Publik bertajuk “Kontribusi Pemikiran: Ekosistem Maritim Pondasi Utama Menuju Kepri Emas 2045” di Auditorium UMRAH, Tanjungpinang, Selasa (05/05/2026). Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari akademisi, pemerintah, dan praktisi maritim, yaitu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau Dr. Said Sudrajat, S.Sos., M.Si., Dekan FIKP UMRAH Dr. Dony Apdillah, M.Si., serta Osman Hasyim dari Aliansi Maritim Indonesia (ALMI) untuk membahas arah pembangunan maritim Kepulauan Riau secara berkelanjutan.

Dalam paparannya, Dr. Dony Apdillah menegaskan bahwa Kepulauan Riau memiliki posisi strategis sebagai jalur utama perdagangan dunia karena berada di koridor Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Ia menyebut sekitar 21,6–22 persen perdagangan global melintasi wilayah tersebut dengan estimasi nilai ekonomi mencapai USD 3–5 triliun per tahun. Namun demikian, potensi besar tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap perekonomian daerah.

Ia menjelaskan bahwa kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor perikanan masih relatif rendah, berkisar 1,7–2,5 persen, akibat berbagai tantangan seperti fluktuasi produktivitas nelayan, keterbatasan infrastruktur maritim, hingga kesenjangan pembangunan antarwilayah. Selain itu, ancaman terhadap biodiversitas laut seperti overfishing dan kerusakan ekosistem juga menjadi perhatian penting dalam pembangunan maritim berkelanjutan.

Sementara itu, Osman Hasyim menyoroti pentingnya pengembangan ekonomi biru berbasis konektivitas, investasi, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Menurutnya, Kepulauan Riau memiliki peluang besar untuk menjadi gerbang utara pariwisata Indonesia melalui pengembangan kawasan wisata maritim terpadu bertaraf internasional.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Said Sudrajat menekankan pentingnya modernisasi sektor kelautan dan perikanan melalui transformasi teknologi. Menurutnya, pemanfaatan teknologi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor perikanan.

Dari hasil diskusi publik tersebut, dirumuskan sejumlah rekomendasi strategis menuju Kepri Emas 2045, di antaranya:

  1. Penguatan industrialisasi dan hilirisasi hasil sumber daya laut melalui penetapan sentra produksi dan pengolahan hasil perikanan.
  2. Integrasi ekonomi regional berbasis jalur perdagangan global Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.
  3. Pengembangan teknologi mariculture berkelanjutan berbasis transformasi digital dan modernisasi infrastruktur maritim.
  4. Implementasi nyata ekonomi biru (blue economy) secara bertahap melalui empat fase pembangunan hingga tahun 2045.
  5. Peninjauan kembali lokasi dan pengelolaan sedimentasi laut guna menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian ekosistem.
  6. Optimalisasi Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebagai basis pengembangan industri perikanan dan pariwisata pesisir berbasis komunitas.

Rekomendasi strategis ini disusun dalam dokumen policy brief yang memuat gagasan dan arah kebijakan pembangunan maritim Kepulauan Riau. Dokumen tersebut nantinya akan diserahkan sekaligus dipaparkan kepada pihak pemerintah pada momentum Hari Marwah Kepri 2026 sebagai bentuk kontribusi kegiatan diskusi publik ini dalam mendukung perumusan kebijakan pembangunan daerah berbasis potensi maritim dan ekonomi biru.

Laporan Oleh:

Widya Septyati, S.P., M.Si.

Editor

M. Johar Rudin,S.Pi.,M.Si

Scroll to Top