Tanjung Pinang – Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UMRAH menyelenggarakan Pengabdian kepada masyarakat-Internasional yang mengambil tema ”Aquaculture and Restocking Betta miniopinna; and Fish Photography Workshop” pada tanggal 16-17 Mei 2026 bekerja sama dengan SHOAL Conservation, Universitas Airlangga, Universitas Bangka Belitung dan Lee Kong Chian Natural History Museum, National University of Singapore. acara dibuka secara resmi oleh Dr. Muzahar, S.Pi., M.Si., selaku Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Kegiatan ini diikuti oleh Dosen dari Prodi Budidaya Perairan, Dosen Prodi Bahasa Inggris, mahasiswa prodi BDP dan penggiat ikan hias Bintan serta beberapa undangan.


Kegiatan ini dibagi dalam dua agenda besar, yakni pengenalan ikan-ikan endemik Bintan dan Workshop Fish Photography serta Restcoking ikan Betta miniopinna hasil budidaya. Kegatan ini dilaksanakan di ruang SCR 5 Gedung B Kampus UMRAH, Dompak. Materi ikan-ikan endemik Bintan disampaikan oleh Bapak Dr. Veryl Hasan, S.Pi, MP dan Ibu Fitri Sil Valen, S.Pi, MP yang merupakan dosen dan peneliti dari Universitas Airlangga dan Universitas Bangka Belitung. Ikan Betta miniopinna merupakan ikan hias air tawar endemik dari Pulau Bintan. Ikan ini ditemukan disekitar perairan Desa Teluk Sebong. Status ikan ini tercatat ”Kritis” menurut Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Oleh karena itu diperlukan upaya nyata untuk menjaga agar ikan ini terus lestari di Bintan.
Langkah awal sebagai upaya konservasi dan perlindungan terhadap spesies ini adalah melalui kegiatan budidaya. Dengan mengoleksi induk yang memiliki potensi unggul dari habitat alami, maka pemijahan dapat dilakukan secara terkontrol. Adalah Oktavianus Jayanta Bangun, penggiat ikan hias dari Bintan yang telah berhasil memijahkan ikan ini dalam wadah terkontrol. Bersama ASAP, SHOAL Conservation, Universitas Airlangga, Universitas Bangka Belitung, Okta telah menghasilkan generasi kedua (f2) ikan Betta miniopinna. Hasil dari kegiatan budidaya, ikan Betta miniopinna dilakukan penebaran kembali (Restocking) di habitat aslinya untuk menambah dan memperkuat populasi alami.
Materi selanjutnya membahas mengenai Fish Photography. Penyampaian materi disejalankan dengan workshop yang bertujuan untuk melatih peserta dalam mengabadikan keindahan dan karakteristik ikan hias dengan kualitas visual yang baik. Materi ini disampaikan oleh Dr. Tan Heok Hui dari Lee Kong Chian Natural History Museum, National University of Singapore. pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan peralatan yang digunakan, teknik pengambilan gambar, seperti pengaturan cahaya dan pemilihan latar belakang, hingga cara memotret yang aman agar ikan terhindar dari kondisi stres. Keterampilan memotret sangat penting, karena dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran dan promosi mengenai keanekaragaman hayati yang ada di Bintan dan Kepulauan Riau. Catatan penting dari Dr Tan adalah ”yang terpenting adalah terus berlatih memotret setiap hari, dengan berlatih kita akan semakin paham mengenai karakter objek yang diifoto, pencahayaan, dan sudut pengambilan gambar yang tepat”.

Agenda kedua adalah restocking ikan Betta miniopinna hasil budidaya. Ikan ini ditebar di lokasi atau habitat aslinya, yakni perairan Senggiling. Sebanyak 300 ekor ikan Betta miniopinna dilepaskan berusia 3 bulan. Penebaran dilakukan secara perlahan agar ikan tidak stress memasuki lingkungan perairan yang baru. Penebaran dilakukan oleh perwakilan dari tiap-tiap pihak yang terlibat, seperti dari UMRAH, UNAIR, UBB, Dinas Perikanan Bintan dan SHOAL Conservation. Upaya pemantauan dan pengawasan tetap terus dilakukan agar keberhasilan hidup ikan Betta miniopinna menjadi tinggi dan lestari. Langkah ini merupakan bagian penting dari tanggung jawab bersama untuk memastikan ikan khas Bintan ini tetap ada dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang


