TANJUNGPINANG – Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan International Visiting Lecturer – Marine Gurindam Seminar Series 3 yang berkolaborasi dengan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Amphitheater Room Lantai 4 Gedung B Kampus UMRAH Dompak dan melalui Zoom Meeting ini menghadirkan akademisi, peneliti, serta mahasiswa dari kedua negara untuk mendiskusikan isu-isu strategis dalam bidang akuakultur.




Mengusung tema “Exploration of Aquaculture Commodities: Gonggong Conch in Indonesia and Lobster in Malaysia”, seminar ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan mengenai tantangan dan peluang pengembangan komoditas perikanan unggulan di kawasan Asia Tenggara.
Pada sesi pertama, Dr. Norshida Ismail dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, memaparkan materi berjudul “From Invasion to Infestation: Exploring Cherax quadricarinatus and Fish Parasitic Crustacean Diversity in Malaysia”. Dalam presentasinya, ia menjelaskan hasil penelitian mengenai keanekaragaman krustasea parasitik, khususnya kelompok kopepod, yang ditemukan pada berbagai spesies ikan budidaya di Malaysia.

Dr. Norshida mengungkapkan bahwa tim penelitinya telah mengidentifikasi sekitar 39 spesies kopepod, termasuk beberapa spesies yang ditemukan menginfestasi insang ikan kakap putih (Lates calcarifer). Menurutnya, keberadaan parasit pada organisme perairan merupakan fenomena alami dalam ekosistem. Namun, kondisi budidaya yang membatasi ruang gerak ikan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan populasi parasit secara cepat.
“Ketika ikan dipelihara dalam kondisi padat dan ruang yang terbatas, parasit yang sebelumnya berada dalam keseimbangan alami dapat berkembang menjadi infestasi yang berdampak pada kesehatan ikan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pengaruh faktor lingkungan, terutama suhu perairan yang meningkat pada musim panas, yang dapat mempercepat reproduksi parasit seperti kopepod maupun Argulus. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan stres, luka, penurunan pertumbuhan, hingga meningkatkan risiko kematian pada ikan budidaya.
Selain membahas aspek kesehatan ikan, Dr. Norshida turut menyinggung keberadaan Cherax quadricarinatus atau Redclaw crayfish sebagai spesies introduksi yang perlu mendapatkan perhatian dari sisi pengelolaan lingkungan. Menurutnya, pemahaman terhadap dinamika spesies invasif dan organisme parasitik menjadi penting untuk mendukung sistem akuakultur yang produktif sekaligus berkelanjutan.
Melalui seminar ini, FIKP UMRAH dan UniSZA berharap dapat memperkuat kolaborasi riset dan pertukaran ilmu pengetahuan dalam menghadapi berbagai tantangan sektor perikanan dan akuakultur, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan organisme budidaya, pengelolaan spesies invasif, serta pengembangan komoditas unggulan di kawasan maritim Asia Tenggara.

