Dari Konservasi ke Pasar Karbon, Prodi MSP Bahas Peluang Ekonomi Blue Carbon

Tanjungpinang, 27 Agustus 2026 — Upaya konservasi ekosistem pesisir kini tidak hanya berkaitan dengan perlindungan lingkungan, tetapi juga membuka peluang pengembangan nilai ekonomi melalui skema karbon biru. Perspektif tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Webinar Series Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Blue Carbon Series 2 yang diselenggarakan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) UMRAH pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Mengangkat tema “Mengubah Konservasi Menjadi Nilai: Peluang Bisnis & Pasar Karbon Biru”, webinar yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini mempertemukan akademisi dan praktisi untuk membahas aspek ilmiah, teknis, hingga peluang pengembangan proyek karbon biru di Indonesia.

Dua narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut, yakni Dr. Andi Zulfikar, S.Pi., MP, Dosen MSP UMRAH sekaligus Ketua C0E FIKP UMRAH, dan Nur Rohim, S.Pi., M.Si., Dosen MSP USU sekaligus Manajer Riset & Monitoring YAGASU.

Memastikan Karbon Biru Terukur dan Kredibel

Sesi pertama diisi oleh Dr. Andi Zulfikar yang membawakan materi “Blue Carbon MRV Framework”. Dalam paparannya, ia menjelaskan pentingnya Measurement, Reporting, and Verification (MRV) sebagai bagian mendasar dalam pengembangan karbon biru.

MRV diperlukan untuk memastikan proses pengukuran, pelaporan, dan verifikasi karbon dilakukan berdasarkan data dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Keberadaan sistem tersebut menjadi penting karena kredibilitas data merupakan salah satu faktor yang menentukan integritas suatu proyek karbon.

Melalui pendekatan MRV, potensi karbon yang tersimpan pada ekosistem pesisir dapat dinilai secara lebih terukur. Hal ini menjadi dasar penting tidak hanya untuk kepentingan konservasi, tetapi juga dalam pengembangan proyek yang berpotensi terhubung dengan mekanisme pasar karbon.

Dari Konsep Menuju Implementasi Proyek

Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Nur Rohim melalui materi “Prosedur Teknis Implementasi Blue Carbon Project di Indonesia.”

Materi tersebut memberikan gambaran mengenai berbagai aspek yang perlu dipersiapkan dalam mengembangkan proyek karbon biru. Peserta diperkenalkan pada proses implementasi yang tidak berhenti pada kegiatan konservasi, tetapi juga membutuhkan perencanaan, pengelolaan ekosistem, pengukuran karbon, serta pemenuhan berbagai aspek teknis proyek.

Penjelasan tersebut memberikan perspektif bahwa pengembangan karbon biru membutuhkan proses yang terstruktur. Potensi ekosistem pesisir sebagai penyimpan karbon perlu didukung oleh data yang kuat, tata kelola yang jelas, serta prosedur teknis yang sesuai agar dapat dikembangkan menjadi proyek yang memiliki nilai lingkungan maupun ekonomi.

Menghubungkan Konservasi dengan Peluang Ekonomi

Kedua materi yang disampaikan dalam webinar memiliki keterkaitan yang kuat. Kerangka MRV memberikan fondasi untuk memastikan karbon dapat dihitung dan diverifikasi secara kredibel, sementara pemahaman mengenai prosedur teknis membantu menerjemahkan konsep tersebut ke dalam implementasi proyek di lapangan.

Keterkaitan inilah yang menjadi penting ketika konservasi mulai dilihat tidak hanya sebagai upaya perlindungan ekosistem, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan ekonomi berkelanjutan.

Ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan ekosistem pesisir lainnya memiliki peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon. Dengan pengelolaan yang tepat dan didukung sistem pengukuran yang kredibel, potensi tersebut dapat menjadi bagian dari inisiatif mitigasi perubahan iklim sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pengembangan proyek karbon biru.

Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan kehati-hatian. Integritas data, metode pengukuran, tata kelola, serta keterlibatan para pemangku kepentingan menjadi bagian penting agar manfaat karbon biru dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Mendukung Agenda Pembangunan Berkelanjutan

Pelaksanaan Blue Carbon Series 2 juga sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kegiatan ini berkontribusi pada SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui peningkatan pemahaman mengenai karbon biru sebagai salah satu pendekatan mitigasi perubahan iklim. Dari sisi pengelolaan ekosistem laut dan pesisir, kegiatan ini berkaitan dengan SDG 14: Ekosistem Lautan.

Sementara itu, pembahasan mengenai peluang bisnis dan pasar karbon biru memiliki relevansi dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya dalam melihat potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari upaya konservasi. Aspek kolaborasi antara perguruan tinggi, praktisi, dan pemangku kepentingan juga mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Laporan Oleh:

Widya Septyati, S.P., M.Si.

Editor

M. Johar Rudin,S.Pi.,M.Si

Scroll to Top