Jurusan Manajemen Perikanan UMRAH dan Pelindo Bentuk Dugong Rangers melalui Sekolah Lapang Perlindungan Dugong dan Lamun di Pengudang

Pengudang, 30 Agustus 2026. Upaya memperkuat keterlibatan masyarakat dalam perlindungan dugong dan ekosistem padang lamun diwujudkan melalui Sekolah Lapang Perlindungan Dugong dan Lamun (Dugong Rangers) yang diselenggarakan oleh Jurusan Manajemen Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) bersama Pelindo di Desa Pengudang. Kegiatan yang berlangsung selama 28–30 Agustus 2026 tersebut melibatkan masyarakat Desa Pengudang dan perwakilan mahasiswa UMRAH. Sebanyak 20 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang tidak hanya memberikan pemahaman mengenai konservasi dugong dan habitatnya, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan identifikasi, dokumentasi, tagging, penggunaan GPS, serta pelaporan berbasis web.

Rangkaian sekolah lapang dilaksanakan secara bertahap, mulai dari pemahaman mengenai kebijakan dan pengelolaan kawasan konservasi, pengenalan dugong dan habitatnya, hingga praktik langsung di lapangan.

Hari Pertama, Memahami Kawasan Konservasi dan Arah Perlindungan Dugong

Pada hari pertama, 28 Agustus 2026, peserta mendapatkan pembekalan mengenai kebijakan dan pengelolaan kawasan konservasi serta arah perlindungan dugong di Provinsi Kepulauan Riau. Materi pertama disampaikan oleh Aulia Rahman, S.Pi., M.Si., Kepala Seksi Wilayah I UPTD Pengelola Kawasan Konservasi Perairan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, dengan materi “Profil dan Pengelolaan Kawasan Konservasi di Provinsi Kepulauan Riau.” Selanjutnya, Ardi Sandria, Kepala Seksi Wilayah II UPTD Pengelola Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Riau, memberikan materi mengenai OECM dan KBK di Indonesia.

Sementara itu, Dr. Donny Apdillah, S.Pi., M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) UMRAH, menyampaikan materi mengenai Rencana Aksi Daerah Perlindungan Dugong di Provinsi Kepulauan Riau 2026–2030. Materi pada hari pertama memberikan landasan bagi peserta untuk memahami konteks kawasan konservasi dan arah kebijakan perlindungan keanekaragaman hayati laut, khususnya dugong di wilayah Kepulauan Riau.

Hari Kedua, Mengenal Dugong, Nilai Konservasi, dan Penanganan Dugong Terdampar

Memasuki hari kedua, 29 Agustus 2026, pembelajaran difokuskan secara khusus pada dugong dan habitatnya. Materi disampaikan oleh Dr. Andi Zulfikar, S.Pi., MP., dosen FIKP UMRAH. Berdasarkan materi sekolah lapang, peserta mendapatkan pembekalan mengenai beberapa aspek penting, yaitu kebijakan dan status konservasi dugong, peran dugong sebagai bagian dari ekosistem pesisir, serta nilai ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi dugong bagi masyarakat pesisir. Peserta juga mempelajari habitat dugong dan hubungannya dengan padang lamun. Materi ini memberikan pemahaman mengenai keterkaitan antara keberadaan dugong dengan ekosistem lamun yang menjadi bagian penting dari habitat dan sumber pakan dugong. Tidak hanya membahas aspek ekologi, sekolah lapang juga memberikan materi mengenai penanganan dugong terdampar. Pembekalan ini menjadi penting bagi masyarakat pesisir karena masyarakat dapat menjadi pihak yang pertama kali menemukan dugong ketika berada dalam kondisi terdampar. Melalui materi tersebut, peserta diharapkan memiliki pemahaman awal mengenai tindakan yang tepat ketika menemukan dugong terdampar, termasuk pentingnya melakukan pengamatan dan dokumentasi serta menyampaikan informasi kepada pihak terkait.

Hari Ketiga, Praktik Identifikasi, Tagging, GPS, dan Pelaporan Berbasis Web

Pada hari ketiga, 30 Agustus 2026, peserta mengikuti kegiatan praktik lapangan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh selama dua hari sebelumnya. Praktik diawali dengan pengenalan dan identifikasi lamun, sebagai bagian dari pemahaman terhadap habitat dugong. Peserta kemudian mendapatkan praktik mengenai identifikasi dan dokumentasi dugong dan lamun, sehingga informasi yang ditemukan di lapangan dapat dicatat secara lebih sistematis. Kegiatan juga mencakup teknik tagging dan pelaporan, termasuk pemanfaatan GPS untuk mencatat lokasi. Pembekalan ini memberikan keterampilan kepada peserta dalam mengumpulkan informasi lapangan yang dapat mendukung pemantauan keberadaan dugong. Selain praktik lapangan, peserta diperkenalkan dengan sistem pelaporan dugong berbasis web melalui SIMADANG.

SIMADANG – Sistem Pelaporan Dugong

Sistem tersebut menjadi bagian dari pendekatan berbasis teknologi dalam mendukung dokumentasi dan pelaporan keberadaan dugong. Dengan sistem ini, informasi mengenai dugong yang ditemukan atau terlihat oleh masyarakat dapat dihimpun dan dicatat secara lebih terstruktur.

Membentuk Dugong Rangers sebagai Mitra Konservasi di Desa Pengudang

Salah satu output utama dari kegiatan ini adalah terbentuknya Dugong Rangers di Desa Pengudang. Dugong Rangers diarahkan sebagai kelompok masyarakat yang menjadi mitra dalam upaya perlindungan dan pemantauan dugong berbasis masyarakat. Kelompok ini diharapkan dapat berperan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai dugong dan habitat lamun, menerima informasi dari masyarakat ketika terdapat penampakan dugong di laut, membantu melakukan dokumentasi awal, serta meneruskan informasi tersebut melalui mekanisme pelaporan yang telah diperkenalkan.

Keberadaan Dugong Rangers juga diharapkan dapat membangun jejaring pelaporan masyarakat. Ketika warga melihat dugong di perairan sekitar Desa Pengudang, informasi tersebut dapat disampaikan kepada Dugong Rangers untuk kemudian didokumentasikan dan dilaporkan melalui sistem yang tersedia. Dengan bekal materi mengenai status konservasi dugong, ekosistem pesisir, habitat lamun, penanganan dugong terdampar, identifikasi dan dokumentasi, tagging, GPS, serta sistem pelaporan berbasis web, Dugong Rangers diharapkan mampu menjadi penggerak partisipasi masyarakat dalam menjaga keberadaan dugong dan habitatnya.

Kolaborasi Perguruan Tinggi, Pemerintah, Dunia Usaha, dan Masyarakat

Pelaksanaan Sekolah Lapang Perlindungan Dugong dan Lamun menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam membangun konservasi yang melibatkan masyarakat secara langsung. Kegiatan yang mempertemukan Jurusan Manajemen Perikanan UMRAH, Pelindo, pemerintah daerah, masyarakat Desa Pengudang, dan mahasiswa ini menggabungkan aspek kebijakan, pengetahuan ekologi, keterampilan lapangan, dan pemanfaatan teknologi. Keterlibatan lima orang mahasiswa dari total 20 peserta juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan pembelajaran akademik dengan praktik konservasi di lapangan. Melalui kegiatan ini, konservasi dugong diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang aktif melakukan edukasi, pemantauan, dokumentasi, dan pelaporan. Pembentukan Dugong Rangers menjadi langkah awal untuk memperkuat peran masyarakat Desa Pengudang sebagai mitra konservasi, sekaligus mendukung upaya perlindungan dugong dan keberlanjutan ekosistem padang lamun di wilayah pesisir Kepulauan Riau.

Laporan Oleh:

Widya Septyati, S.P., M.Si.

Editor

M. Johar Rudin,S.Pi.,M.Si

Scroll to Top